News

Solar Langka di Pantura Jatim: Distribusi Logistik Tersendat, Produktivitas Truk Merosot Tajam

399
×

Solar Langka di Pantura Jatim: Distribusi Logistik Tersendat, Produktivitas Truk Merosot Tajam

Sebarkan artikel ini

IDNZONE.COM – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi yang melanda sejumlah wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Timur mulai memicu dampak domino. Kondisi ini tidak hanya menghambat kelancaran distribusi logistik, tetapi juga memaksa sebagian perusahaan angkutan barang untuk memangkas intensitas pengiriman ke daerah-daerah yang mengalami krisis pasokan. Sabtu, (27/06/2026).

Ketua DPC Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) Kota Surabaya, I Wayan Sumadita, mengungkapkan bahwa laporan mengenai sulitnya mendapatkan solar bersubsidi ini sudah mulai membanjiri organisasi sejak awal Juni 2026. Meski wilayah Surabaya relatif aman, kondisi kontras justru terjadi di jalur urat nadi perekonomian Pantura.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

“Teman-teman pengusaha angkutan terpaksa mengurangi pengiriman ke daerah yang ketersediaan solar bersubsidinya terbatas atau sering kosong. Hal ini tentu berdampak langsung pada kelancaran distribusi barang,” ungkap Wayan.

Sopir Lelah Mental, Risiko Kecelakaan Mengintai di Jalanan
Menurut Wayan, dampak kelangkaan solar ini sudah masuk ke tahap yang mengkhawatirkan. Persoalan di lapangan tidak lagi sekadar urusan operasional bisnis, melainkan sudah menyentuh aspek keselamatan jiwa para pengemudi.

Kelelahan Mental Sopir: Antrean panjang yang mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memaksa para sopir truk menunggu hingga berjam-jam demi mendapatkan solar.

Risiko Laka Lantas & Kemacetan: Jajaran truk yang mengantre hingga memakan badan jalan di sepanjang jalur Pantura dinilai sangat rawan memicu kecelakaan lalu lintas serta memperparah kemacetan arus kendaraan.

Dari sisi efisiensi waktu, pembengkakan durasi perjalanan melonjak sangat drastis. Jika dalam kondisi normal perjalanan ke kota tujuan bisa ditempuh dalam waktu 12 hingga 20 jam, kini durasinya melar hingga lebih dari 36 jam hanya karena habis untuk mengantre BBM.

Baca Juga  Polri Resmi Luncurkan E-Sport Kapolri Cup 2026 dalam Munas IESPA

“Produktivitas kendaraan otomatis turun tajam. Belum lagi kemacetan menuju maupun keluar area pelabuhan juga ikut terdampak karena banyak armada truk yang tertahan,” imbuh Wayan.

Menelisik Akar Masalah: Kendala Administratif SPBU
Berdasarkan penelusuran internal APTRINDO, ada beberapa faktor yang diidentifikasi menjadi pemantik kelangkaan solar di lapangan:

1. Keterlambatan pasokan logistik BBM ke pihak SPBU.

2. Pengurangan kuota solar bersubsidi di sejumlah titik SPBU tertentu.

3. Proses pembaruan sistem manajemen keselamatan bagi pengemudi truk tangki BBM yang dinilai ikut memperlambat ritme distribusi.

Merespons masalah ini, APTRINDO Jawa Timur telah meminta klarifikasi langsung kepada Pertamina. Berdasarkan keterangan resmi yang diterima, pasokan stok BBM secara nasional sebenarnya dalam kondisi aman. Masalah utama justru terletak pada keterlambatan penerbitan Purchase Order (PO) dari pihak manajemen SPBU, yang akhirnya memicu efek keterlambatan pengiriman solar ke sejumlah stasiun pengisian.

Surati Gubernur hingga Ancaman Aksi Turun ke Jalan
Guna mencari jalan keluar, APTRINDO tidak tinggal diam. Langkah birokrasi dan koordinasi lintas sektor terus digulirkan. Mereka telah melayangkan surat resmi kepada DPD dan DPP APTRINDO agar isu ini dikawal di tingkat nasional. Keluhan juga sudah diteruskan kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta Gubernur Jawa Timur.

Namun, Wayan memberikan peringatan keras jika situasi ini tidak kunjung menemui titik terang.

“Apabila kondisi ini terus berlarut-larut tanpa adanya penyelesaian yang jelas, APTRINDO tidak menutup kemungkinan akan mengajak para pelaku usaha angkutan untuk menyampaikan aspirasi melalui aksi nyata di lapangan,” tegasnya.

Tarif Angkutan Belum Naik, Industri Terancam Terganggu
Meskipun biaya operasional membengkak, APTRINDO menegaskan belum ada rencana untuk menaikkan tarif angkutan secara massal dan permanen. Penyesuaian tarif saat ini hanya bersifat kasuistik atau sementara untuk pengiriman yang sangat mendesak (urgent), berdasarkan kesepakatan bersama dengan pelanggan.

Baca Juga  Pasokan Naik, Harga Cabai di Kediri Turun Drastis, Cabai Rawit Anjlok

“Kenaikan biaya operasional saat ini bukan dipicu oleh harga solar, melainkan karena hilangnya produktivitas akibat lamanya waktu antrean dan keterlambatan distribusi,” tambah Wayan.

Jika krisis solar di Pantura ini dibiarkan berkepanjangan, efeknya dikhawatirkan akan merembet ke sektor domestik masyarakat luas. Keterlambatan pasokan bahan baku dapat menghentikan aktivitas produksi pabrik, menaikkan ongkos produksi, dan ujung-ujungnya memicu lonjakan harga barang di tingkat ritel akibat rantai pasok yang rusak. (TIF)