News

Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, PFI-IJTI Surabaya Soroti Pentingnya Keselamatan Liputan

327
×

Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, PFI-IJTI Surabaya Soroti Pentingnya Keselamatan Liputan

Sebarkan artikel ini

IDNZONE.COM – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Surabaya bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Surabaya dan sejumlah wartawan menggelar doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih dalam pencarian setelah dilaporkan hilang saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Senin (7/9/2026).

Doa bersama digelar di Taman Apsari, Surabaya, Jumat (11/9/2026). Kegiatan tersebut dipimpin Humas Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Khoirul Anam sebagai bentuk dukungan dan kepedulian agar seluruh jurnalis serta kru kapal yang hilang segera ditemukan dalam kondisi selamat.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Ketua PFI Kota Surabaya Suryanto menegaskan, kegiatan tersebut bukan aksi, melainkan doa bersama sebagai bentuk solidaritas dan harapan dari sesama jurnalis.

“Ini sebenarnya bukan aksi, tapi ini adalah doa bersama untuk lima orang jurnalis dan tiga orang kru yang saat ini masih dalam pencarian. Harapan kami kelima jurnalis dan tiga orang kru ini bisa segera ditemukan dengan selamat,” ujar Suryanto di sela kegiatan.

Lima jurnalis yang hingga kini masih dalam pencarian masing-masing adalah M. Bagus Khoirunnas dari Perum LKBN ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni, jurnalis lepas.

Dalam doa bersama tersebut, para wartawan juga menyalakan lilin. Menurut Suryanto, lilin menjadi simbol harapan agar kelima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut segera ditemukan.

“Simbol lilin adalah simbol harapan dari kami semua agar kelima dan tiga orang rekan kami itu bisa segera ditemukan,” katanya.

PFI Koordinasi dengan Tim SAR dan Keluarga

PFI Nasional terus melakukan koordinasi dengan berbagai organisasi jurnalis, tim SAR gabungan, serta keluarga korban untuk memantau perkembangan proses pencarian.

Baca Juga  Di Tengah Beragam Isu, Warga Surabaya Pilih Sebarkan Optimisme untuk Indonesia

Koordinasi juga dilakukan dengan perusahaan atau media tempat para jurnalis bekerja. Untuk Firman Daus yang bekerja di Anadolu Agency, Suryanto mengatakan pihak media tersebut telah mengetahui kejadian dan turut berkomunikasi dengan Tim SAR serta Basarnas.

“Pihak tempat Mas Daud bekerja sudah tahu dan sudah melakukan pendekatan sendiri kepada Tim SAR dan Basarnas,” ujarnya.

Hingga saat ini, proses pencarian masih menjadi perhatian komunitas jurnalis. PFI Surabaya berharap seluruh pihak yang terlibat dalam operasi pencarian dapat segera menemukan para jurnalis dan kru kapal dalam kondisi selamat.

PFI Dorong Penguatan Keselamatan Jurnalis

Peristiwa hilangnya lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut juga menjadi pengingat pentingnya keselamatan jurnalis dan mitigasi risiko ketika menjalankan tugas di lapangan.

Menurut Suryanto, jurnalis memang dituntut mendekati objek liputan untuk mendapatkan informasi maupun visual yang dibutuhkan. Namun, kedekatan dengan objek liputan harus tetap memperhitungkan jarak aman dan potensi bahaya.

“Sebagai jurnalis, kita memang harus mendekat, tetapi tidak boleh terlalu dekat dan tidak boleh terlalu jauh. Mitigasi risiko itu memang harus dihitung,” katanya.

Ia mengakui kondisi alam memiliki faktor yang tidak selalu dapat diprediksi. Bahkan ketika persiapan dan mitigasi telah dilakukan, situasi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu.

“Namanya alam juga kita tidak bisa lawan. Mungkin tiba-tiba ada ombak besar, itu kita tidak bisa hitung. Itu yang tidak bisa kita prediksi,” ujarnya.

Karena itu, PFI Surabaya berencana memperkuat pembekalan keselamatan bagi jurnalis melalui program pelatihan mitigasi risiko bencana. Program tersebut sebelumnya telah direncanakan dan kini masih dalam tahap persiapan.

PFI Surabaya juga tengah menyiapkan materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan jurnalis ketika menjalankan tugas di wilayah berisiko tinggi.

Baca Juga  Banyuwangi Raih Apresiasi Internasional atas Pengelolaan Wisata Bahari Berkelanjutan

Media Diminta Bekali Jurnalis dengan Sertifikasi Keselamatan

Selain pelatihan, PFI Surabaya mendorong perusahaan media memberikan pembekalan dan sertifikasi keselamatan kepada jurnalis sebelum menugaskan mereka ke lokasi dengan tingkat risiko tinggi.

Menurut Suryanto, pembekalan khusus sangat penting terutama bagi jurnalis yang ditugaskan meliput konflik, bencana, wilayah gunung berapi, maupun kawasan laut dengan kondisi ekstrem.

“Harusnya sebelum jurnalis diberangkatkan ke peliputan konflik atau wilayah konflik, media sendiri sudah membekali dengan sertifikasi-sertifikasi khusus. Jadi yang diberangkatkan adalah orang-orang yang memang sudah memiliki sertifikasi khusus untuk wilayah tersebut,” tuturnya.

Bagi komunitas jurnalis di Surabaya, hilangnya lima jurnalis dan tiga kru kapal saat menjalankan tugas menjadi momentum untuk kembali memperkuat kesadaran tentang keselamatan kerja jurnalistik.

Di tengah tuntutan untuk menghasilkan informasi secara cepat dan akurat, keselamatan jurnalis tetap menjadi prioritas yang tidak boleh diabaikan, terutama ketika liputan dilakukan di wilayah dengan potensi bahaya tinggi. (KFG)