News

Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Ini Jadwal Lengkap Versi BMKG

298
×

Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Ini Jadwal Lengkap Versi BMKG

Sebarkan artikel ini
foto Ilustrasi Kemarau

IDNZONE.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait datangnya musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi tiba lebih awal dari biasanya. Fenomena ini berpotensi memicu kondisi cuaca yang jauh lebih kering dan berdampak signifikan pada berbagai sektor di Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa percepatan musim kemarau ini dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026. Saat ini, kondisi iklim global telah bertransisi menuju fase netral.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Transisi Menuju El Niño
Selain berakhirnya La Niña, dinamika atmosfer global menunjukkan adanya peluang terbentuknya fenomena El Niño pada pertengahan tahun ini. “Kemungkinan kemunculan El Niño diperkirakan berada pada kisaran 50 hingga 60 persen,” ujar Teuku Faisal.

BMKG mencatat awal musim kemarau mulai terjadi pada April 2026 di sekitar 114 Zona Musim (ZOM). Wilayah yang terdampak lebih dulu meliputi:

Pesisir utara Jawa bagian barat

Jawa Tengah dan Jawa Timur

Sebagian wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Memasuki bulan Mei, wilayah yang terdampak diprediksi meningkat menjadi 184 ZOM, disusul 163 ZOM lainnya pada bulan Juni. Secara keseluruhan, hampir separuh wilayah Indonesia (sekitar 46,5 persen) akan mengalami awal kemarau yang lebih dini dibandingkan rata-rata historisnya.

Lebih Kering dan Berdurasi Panjang
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa musim kemarau tahun ini tidak hanya datang lebih cepat, tetapi juga diproyeksikan lebih kering dari kondisi normal.

“Sebagian besar wilayah diproyeksikan mengalami curah hujan di bawah rata-rata. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di mayoritas wilayah Indonesia,” jelas Ardhasena.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena durasi kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang di lebih dari setengah wilayah Indonesia. Hal ini meningkatkan risiko kekeringan ekstrem, gangguan pada produktivitas sektor pertanian, serta ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Baca Juga  Perketat Pengawasan, Pemkab Tuban Wajibkan Kios Pamer Daftar Penerima Pupuk Subsidi

Langkah Antisipasi Sejak Dini
Merespons potensi ancaman ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat untuk segera melakukan langkah mitigasi. Pengelolaan cadangan air di waduk maupun embung, penguatan ketahanan pangan, serta penyesuaian pola tanam menjadi kunci utama dalam menghadapi kemarau panjang.

“Langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini untuk meminimalkan dampak kerugian, terutama di sektor pangan dan manajemen air nasional,” pungkasnya. (LYF)