News

Laba Moncer 2025, Saham BCA Diproyeksi Kembali Menguat

236
×

Laba Moncer 2025, Saham BCA Diproyeksi Kembali Menguat

Sebarkan artikel ini

IDNZONE.COM – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tengah menjadi sorotan tajam para pelaku pasar modal. Meski mencatatkan kinerja keuangan yang “anti-badai” sepanjang tahun 2025, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia ini justru mengalami koreksi signifikan sejak awal tahun 2026.

Fenomena ini dinilai sebagai anomali pasar yang langka, mengingat fundamental perusahaan tetap kokoh dengan pertumbuhan laba bersih yang berkelanjutan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Rapor Hijau di Tengah Pelemahan Harga
Secara fundamental, BCA menunjukkan performa yang sangat impresif. Pada tahun buku 2025, BBCA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp54,8 triliun. Angka laba ini bahkan jauh melampaui total nilai pasar (market cap) puluhan bank menengah lainnya di bursa.

Namun, kinerja operasional yang gemilang tersebut tidak berbanding lurus dengan pergerakan harga sahamnya. Sejak awal Januari hingga 7 April 2026, saham BBCA telah terkoreksi hingga 19%. Pada perdagangan Rabu (8/4), BBCA sempat tertahan di level 7.000, bahkan menyentuh area Rp6.500, sebuah angka yang berada jauh di bawah level psikologisnya.

Pelemahan ini sejalan dengan kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga merosot 15,79% secara year to date (YTD) akibat kepanikan pasar global dan rotasi sektor.

Peluang “Memungut Mercy Harga Avanza”
Pengamat Pasar Modal, Rendy Yefta, menilai kondisi ini sebagai peluang undervalued yang sangat jarang terjadi pada saham kasta tertinggi (blue chip). Menurutnya, valuasi BBCA saat ini sudah tidak wajar jika dibandingkan dengan kualitas aset, efisiensi operasional, dan loyalitas nasabahnya.

“Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza. Secara historis, pasar selalu menghargai BBCA dengan PBV normal di kisaran 4x hingga 5x. Saat kepanikan mereda, harga tidak akan merangkak, tapi berlari kencang menuju normalisasi valuasinya,” ujar Rendy.

Baca Juga  Menkeu: Fondasi Ekonomi Kuat, IHSG Diproyeksi Terus Menguat

Menanti “Ledakan” Laporan Keuangan Kuartal I/2026
Para investor kini tengah mengantisipasi rilis kinerja keuangan Kuartal I/2026 yang dijadwalkan keluar pada bulan April ini. Dengan tren penyaluran kredit yang tetap melesat, laporan tersebut diprediksi akan kembali memamerkan angka laba jumbo.

Rendy mengingatkan investor agar tidak terlambat mengambil posisi sebelum institusi besar dan manajer investasi raksasa kembali melakukan akumulasi besar-besaran.

“Orang bijak mengumpulkan emas saat harganya sedang jatuh ke lumpur, bukan saat semua orang sedang antre membelinya di toko. Jika Anda baru membeli saat berita bagus sudah menyebar, Anda terpaksa membeli di harga pucuk,” tambahnya.

Investasi Jangka Panjang dan Dividen
Selain potensi capital gain (keuntungan selisih harga), mengoleksi saham BBCA saat harga tertekan dipandang sebagai strategi membangun legacy finansial. Dengan hak kepemilikan di bank swasta terbaik di Asia Tenggara, investor berkesempatan menikmati aliran dividen yang stabil setiap tahunnya.

Kini, keputusan ada di tangan para pemodal: memanfaatkan momentum “diskon” besar-besaran ini untuk mendulang cuan di masa depan, atau sekadar menjadi penonton saat harga kembali terbang ke habitat aslinya. (JBL)